Jumat, 01 Juli 2011

MAKALAH SOSIOLOGI PERTANIAN PERANAN KELOMPOK TANI DALAM INTENSIFIKASI PERTANIAN


PENDAHULUAN
Intensifikasi pertanian merupakan kebijaksanaan yang diambil oleh pemerintah dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan di Indonesia sejalan dengan laju pertambahan penduduk yang semakin meningkat. Komoditi pertanian memiliki peran strategis dalam mewujudkan kebijaksanaan pemerintah untuk meningkatkan perolehan devisa. Ketangguhan peran tersebut di era globalisasi perdagangan di dunia diperhadapkan pada persaingan mutu komoditi, baik di pasar domestik maupun manca negara(Sulistiyono,2004).

Pada awal program intensifikasi ini, yaitu tahun 1970 sampai 1980, untuk mengatasi masalah hama digunakan berbagai jenis dan formulasi pestisida dengan aneka bahan aktifnya. Pada saat itu pestisida diprogramkan untuk memberantas bukan untuk mengendalikan, bahkan juga untuk mencegah agar hama tidak timbul. Kegiatan pemberantasan ini sudah terjadwal rapi, misalnya setiap sekali dalam seminggu tanpa memperhatikan ada tidaknya serangan dan ekosistem(Wudianto, 2001).

Pada awal penemuan dan penggunaanya, pestisida mendapat sukses yang luar biasa, sehingga disambut sebagai rahmat Yang Maha Kuasa terhadap manusia. Tercatat antara tahun 1951-1966 produksi bahan makanan mengalami peningkatan 34%, dimana hal itu diikuti dengan peningkatan penggunaan pestisida sampai 300% dari biasa. Melalui penggunaan pestisida, hama-hama yang merusak tumbuhan pertanian dapat dimusnahkan, sehingga manusia terus menggunakan senyawa kimia ini untuk menuntaskan hama-hama pertanian (Palar, 2008).

WHO (World Health Organisation) memperkirakan bahwa setengah juta kasus keracunan pestisida muncul setiap tahunnya, 5000 orang diantaranya berakhir dengan kematian. Pada akhir tahun 1980 dilaporkan bahwa jumlah keracunan pestisida di dunia dapat mencapai satu juta kasus dengan 20.000 kematian per tahun (Sulistiyono, 2004).





INTENSIFIKASI PERTANIAN

Intensifikasi pertanian adalah mengusahakan pertanian secara intensif agar diperoleh hasil yang optimal. Dalam intensifikasi pertanian biasanya diperhatikan masalah pengadaan bibit, pengolahan tanah, penanaman, pemupukan, pemberantasan hama dan penyakit, pemanenan dan kegiatan pasca panen.
Ada berbagai langkah untuk menerapkan intensifikasi pertanian, yaitu dengan menjalankan panca usaha tani.
1.      Pemilihan dan penggunaan bibit unggul : Bibit unggul yang baik adalah bibit yang memiliki keunggulan dibandingkan varietas lainnya misalkan tahan terhadap hama dan penyakit, produktivitas yang tinggi, daya vigor yang tinggi, peka terhadap rangsangan pupuk, fase juvenile yang singkat serta memiliki keseragaman dalam bentuk, warna dan ukuran. Contoh dari biibit unggul adalah IR 64, PB 4, atau raja lele (untuk padi).
2.      Pengelolaan lahan pertanian secara tepat : Mengolah lahan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu mekanik dan konvensional. Cara mekanik dapat menggunakan alat berat seperti traktor, namun kelemahan metode mekanik yaitu kurang efisien pada pengelolaan tanah hutan karena hanya dapat dilakukan pada musim kemarau saja. Sedangkan cara konvensional dilakukan dengan menggunakan alat-alat pertanian tradisional seperti cangkul dan garu. Kelemahan metode ini yaitu membutuhkan waktu yang lama namun tidak merusak struktur tanah.
3.      Pemberian pupuk sesuai dosis : Walaupun pada dasarnya tanah telah menyediakan unsure hara essensial bagi tanaman, pemberian pupuk tetap harus dilakukan terutama untuk mengembalikan unsure hara yang telah diserap oleh akar tanaman. Pupuk yag lazim digunakan antara lain pupuk alami missal kompos, dan pupuk buatan missal NPK,
4.      Pemberantasan Organisme Pengganggu Tanaman : Pemberantasan hama dan penyakit tanaman merupakan kegiatan pemeliharaan tanaman. Masalah utama yang kerap dihadapi petani adalah hama. Pengendalian hama tidak semata-mata menggunakan pestisida kimia, tetapi dapat pula menggunakan pestisida alami dengan mempertimbangkan komposisi rasa pestisida. Cara yang dianggap paling bijak adalah dengan menggunakan predator alami, sehingga keseimbangan ekosistempun akan tetap terjaga.
5.      Pengaturan irigasi atau saluran air : irigasi merupakan hal yang penting dalam kegiatan pertanian, karena petani harus mengerti akan kebutuhan tanaman yang dikelolanya serta sumber air tersebut. Umumnya pemberian air tidak boleh melebihi kapasitas titik layu lahan.

PERANAN KELOMPOK TANI DALAM INTENSIFIKASI PERTANIAN
Petani memiliki pengaruh yang sangat besar dalam intensifkasi pertanian, sayangnya terkadang kerja keras petani tidak diperhatikan bahkan tidak dihargai oleh pemerintah. Kebijakan pemerintah kerap tidak berpihak pada petani missal saja harga bibit dan pupuk yang tinggi namun pendapatan petani tetap rendah. Berdasarkan pengakuan dari salah satu anggota kelompok tani di daerah Indramayu, petani hanya mendapat upah bersih sebesar Rp 250,00 per harinya. Hal ini sangat memprihatinkan apabila ditinjau dengan luas lahan pertanian di Indramayu yang mencapai 118.000 ha. Rata-rata pembelanjaan petani untuk pembelian benih per musimnya mencapai Rp 14.160.000.000,00.
Peranan petani di Indramayu dalam intensifikasi pertanian sangat kuat tercermin pada pembuatan benih padi yang dibuat secara swadaya melalui bantuan penyuluhan dari berbagai pihak terutama ARF yang lebih dikenal sebagai sekolah lapangan. Pembuatan benih padi tersebut dilandasi oleh keprihatinan petani local akan tingginya harga benih yang diedarkan oleh Departemen Pertanian setempat. Dari kemampuan pemuliaan benih yang mereka miliki petani local mampu membuat benih yang unggul sehingga mampu meningkatkan pendapatan dari padi yang mereka kelola.
Berdasarkan hal tersebut, kentara sekali bahwa kelompok tani sangat berpengaruh terhadap kesuksesan intensifikasi pertanian. Tak jarang petani membelanjakan uang hasil panen untuk membeli pupuk yang sangat mahal, hal tersebut menunjukkan bahwa petani berperan besar terhadap kecukupan di Indonesia.
Sayangnya, petani kerap diganjal oleh birokrasi yang entah sengaja dibuat untuk menindas petani atau hanya untuk formalitas saja. Misalnya saja pada pembuatan benih yang dilakukan petani di Indramayu, lahan pertanian tersebut diancam ditutup karena kelompok tani tersebut dianggap telah mendistribusikan benih yang tidak terdaftar dinas pertanian, alasan yang lain adalah karena petani belum mampu menghasilkan benih yang berkualitas, petani hanya mampu menyilangkan saja. Selain itu petani kerap dijadikan sebagai kambing hitam, misalnya saja ketika kasus ledakan hama yang terjadi pada tahun 70 an, petani dianggap sebagai dalang utama terjadinya gagal panen karena pemberian pupuk yang melebihi dosis, padahal masalah ini merupakan masalah system yang menyangkut kinerja pemerintah, terutama ketidak pedulian pemerintah akan pemberian penyuluhan pada petani. Pemerintah dianggap hanya memperdulikan pasokan pangan saja namun tidak peduli akan proses panjang yang terjadi di dalamnya.

DAMPAK INTENSIFIKASI PERTANIAN

1.      Dampak dari Pengolahan Tanah
Seringkali terlihat para petani mengolah tanah dengan membajak sawahnya. Ketika petani membajak, sawah dialiri air hingga tergenang, dan terkadang kelebihan air di alirkan ke got dan akhirnya masuk ke sungai. Jadi, di sawah terjadi pencucian unsur hara yang selanjutnya di buang ke sungai. Akibatnya kesuburan sawah semakin berkurang. Selain itu pembajakan dengan alat berat seperti traktor dapat merusak struktur tanah dan kandungan bahan organik tanah sehingga menyebabkan tanah menjadi mampat akibat dari tidak lancarnya aerasi dan proses dekomposisi yang tidak optimal sehingga menyebabkan tanah menjadi susah diolah.

2.      Dampak dari Pemupukan
Pemupukan dilakukan untuk memberikan zat makanan yang optimal kepada tanaman, agar tanaman dapatmemberikan hasil yang cukup. Pemupukan dan pupuk buatan dapat menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menurun). Jika tanah menjadi asam, produktivitas tanaman pertanian akan merosot. Selain itu, unsur nitrogen yang terkandug di dalam pupuk dapat menyebabkan terbentuknya larutan nitrit di dalam tanah. Larutan nitrit itu dapat meresap ke dalam sumur penduduk yag berdekatan. Air sumur yang menagndung nitrit dapat menyebabkan munculnya penyakit bayi biru (blue baby), yakni tubuh bayi yang kebiru-biruaan karena kekurangan oksigen. Bayi yang kekurangan oksigen akan mengalami gangguan pertumbuhan otak.
Pemupukan yang berlebihan dan larut ke dalam air juga dapat menyebabkan meningkatkan kesuburan sungai (eutrofikasi). Ganggang dan tumbuhan sungai, misalnya eceng gondok, tumuh dengan subur. Akibatnya hewan-hewan air akan kekurangan oksigen sehinnga mengalami kematian. Selain itu, meningkatnya kesuburan tumbuhan air dapat menyebabkan terjadinya pendangkalan pda waduk dan bendungan.
Pupuk hijau dan pupuk kandang merupakan pupuk yang dapat memperbaiki struktur tanah, menggemburkan tanah dan juga menyuburkan tanah. Untuk mengurangi dampak negatif penggunaaan pupuk buatan perlu diselingi dengan penggunaan pupuk kandang dan pupuk hijau.
3. Dampak dari Pestisida
Untuk mengurangi dampak tersebut, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

a)Tidak mencuci peralatan penyemprot di sungai atau di dekat sumur agar tidak mencemari sungai atau sumur penduduk. Cucilah peralatan di tempat khusus dan limbahnya dibuang secara khusus pula (dengan pembuatan lubang pembuangan yang jauh dari pemukiman).

b)Tidak membuang sisa obat di sembarang tempat. Buanglah sisa obat di tempat khusus yang tidak mencemari sungai atau sumur penduduk.

c)Tidak menggunakan obat melebihi takaran  (over dosis).

d)Mengurangi penggunaan pestisida dengan memberantas hama secara mekanik (misal ditangkap, kemudian dimatikan), dan secara biologis (misal menggunakan serangga predator). Pemberantasan secara biologis dengan serangga atau hewan predator dimaksudkan agar hewan predator yang dilepaskan di lingkungan memangsa hama tanaman. Serangga predator dipelihara terlebih dahulu, lalu dikembangbiakkan, kemudian dilepas di sawah atau di perkebunan.




PENUTUP
Intensifikasi merupakan kebijaksanaan yang diambil oleh pemerintah dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan di Indonesia sejalan dengan laju pertambahan penduduk yang semakin meningkat.
Intensifikasi pertanian dapat ditempuh melalui panca usaha tani yaitu; pemilihan dan penggunaan bibit unggul, pengolahan lahan pertanian, irigasi, pemberantasan organisme pengganggu tanaman, dan pemupukan.
Dampak negative dari intensifikasi pertanian yaitu, tanah yang mampat akibat pengolahan dengan alat berat, ledakan hama yang telah resisten terhadap pestisida, penurunan kualitas tanah akibat pemberian pupuk yang berlebihan, serta keracunan yang dialami manusia.
Peran serta kelompok tani sangat kuat dalam Intensifikasi pertanian salah satunya penyedia informasi bagi pelaksanaan pertanian, penggerak kemandirian petani semisal pembuatan benih unggul, serta pemasok kebutuhan pangan seluruh rakyat Indonesia.










REFERENSI
olahan berbagai sumber 











MAKALAH
SOSIOLOGI PERTANIAN
PERANAN KELOMPOK TANI DALAM INTENSIFIKASI PERTANIAN
UGM
Disusun Oleh:

Nama                              : Christina Dian K
NIM                                : PN/12049
Prodi                               : Ilmu Hama Dan Penyakit Tumbuhan
Hari, tanggal                  : Minggu, 19 Juni 2011



FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar